Translate

Wednesday, August 11, 2010

Aktif di Denmark

Tanpa terasa sudah hampir 6 bulan, aku menjalani hari-hari baruku di Denmark. Setiap kali ditanya dalam bahasa Danish `´Kan du god lide bor i Danmark?´` (betah tidak tinggal di Denmark), aku pasti mengangguk tersenyum dan mencoba menjawab diplomatis ´´hidup di sini lebih berat daripada ketika di Indonesia, namun saya mencoba menjalaninya´´.

Kendala utama hidup di dataran utara Eropa ini bukan hanya soal cuaca yang lebih sering dinginnya daripada panasnya, namun juga aspek-aspek lain seperti perbedaan bahasa dan budaya. Banyak saudara atau teman yang mengira hidup dan tinggal di Denmark lebih enak daripada tinggal di Indonesia, pemikiran itu belum tentu benar, tapi bukan berarti salah sama sekali.

Hidup di Denmark berat karena setiap individu dewasa dan normal di sini harus dapat menjalani hidup secara mandiri dan memberikan kontribusi positif kepada negara melalui pajak pendapatan dan juga peran aktif di dalam masyarakat. Selain itu ngga enaknya, hampir semua barang dan jasa di Denmark harganya alamak mahalnya (apalagi kalau kita bandingkan harganya dengan di Indonesia, bagai bumi dan langit!). Ketika di Indonesia, ketika berbelanja di supermarket , hampir tak pernah aku mengecek harga barang yang mau diambil atau membanding-bandingkan harga dari setiap produk, namun di Denmark, para konsumen sangat aware terhadap harga produk karena akan sangat mempengaruhi jumlah pengeluaran belanja mereka sehari-hari. Jadi mereka sangat-sangat teliti sebelum membeli. Beda harga sedikit sangatlah berarti :D

Selain itu tak perduli betapa sibuk dan lelahnya pasangan suami istri bekerja di luar rumah mencari nafkah, ketika mereka tiba di rumah semua pekerjaan rumah tangga seperti membersihkan rumah, memasak, mencuci , merawat anak dan sebagainya harus dikerjakan secara bersama-sama tanpa membedakan ini tugas suami, itu tugas istri, karena di Denmark jarang sekali keluarga memiliki pembantu rumah tangga. Mungkin hanya keluarga kerajaan atau bangsawan saja yang punya karena gaji pembantu di Denmark bukan dihitung secara bulanan, namun per jam dan itu juga tidak full 24 jam seperti mbak-mbak kita di Indonesia :P. Seorang Ou Pair (baby sitter) keluarga kaya, dia hanya boleh bekerja 4 jam dalam sehari dan mendapatkan libur 2 hari dalam seminggu. Gaji bersihnya nya sekitar 4000-5000 DKK perbulan atau sekitar Rp 7-8 juta. Pajak pendapatan Ou pair tersebut juga ditanggung oleh sang majikan. Gaji tersebut termasuk kecil di Denmark karena harga barang dan jasa yang sangat-sangat mahal di sini. Jadi gaji segitu, hitung-hitung hanya untuk uang saku atau uang jajan si Ou Pair karena dia tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli makanan dan tempat tinggal. Semuanya ditanggung oleh majikan. Ayo siapa yang mau jadi Ou pair di Denmark? :D

Jadi seperti di keluargaku yang nota bene sama sekali bukan keluarga bangsawan :P, pagi-pagi sekali sekitar pukul 6 pagi aku sudah bangun dan menyiapkan keperluan Bintang seperti kotak makan siang dan keperluannya selama di bornehave. Suamiku Lars dengan kesadaran dan tanggungjawabnya yang tinggi, juga bangun dan membantuku menyiapkan sarapan pagi. Setelah beres mendadani Bintang, dia akan mengantar kami. Pertama dia akan mengantarku ke sekolah bahasa dan kemudian mengantar Bintang ke bornehave. Setelah itu dia akan kembali ke rumah dan bekerja dari rumah. Sementara ini selain bekerja secara paruh waktu sebagai konsultan, profesi utamanya adalah sebagai supir keluarga dan tukang masak :D . Semua itu dia lakoni dengan senang hati dan tanpa keluh kesah. Bahkan terkadang dia tanpa sungkan membantu menjemurkan pakaian-pakaian basah dari mesin cuci. Entah bagaimana rasanya, bila aku harus hidup tanpanya. Dia suami yang sangat ringan tangan (bukan berarti suka memukul istri ya) :P.

Berat memang hidup tanpa pembantu, itu jujur yang aku rasakan. Namun lambat laun aku bisa mengatasinya dan mulai menikmatinya :D. Aku juga belajar tidak manja dan mentang-mentang. Dulu ketika di Jakarta, untungnya aku tidak terlalu maniak pergi kemana-mana dengan taksi. Pergi dan pulang dari kampus UI Salemba setiap harinya aku pasti selalu menggunakan mikrolet, walau harus menyambung berkali-berkali hingga kediaman mewahku di Pejaten Barat :D. Mungkin buat orang yang tahu aku ´´istri orang bule´´ pasti akan bertanya-bertanya. Tapi aku ga perduli, karena sejak SD aku memang suka naik mikrolet dan tidak akan berhenti hanya karena aku sudah menikah dengan bule. Malah aku kadang-kadang saat libur iseng mengajak suamiku naik metro mini, kopaja dan bahkan KRL ekonomi ke Bogor . Kami juga sering nongkrong santai di tenda bebek goreng yang ada di pinggir jalan di sekitar Blok M :D. I am is I am :D. I will never change :D

Jadi ketika tinggal di Denmark, aku tidak peduli mobil apa yang aku punya, naik apa aku ke sekolah nanti dsb.dsb.. malah buat aku naik bis di Denmark sangat-sangat praktis dan FUN. Aku berencana pertengahan September nanti ketika kami pindah lagi ke kota Slagelse, kendaraan utama yang akan aku gunakan untuk berangkat sekolah dan menjemput Bintang adalah SEPEDA. Selain praktis dan sehat, aku lihat perempuan di Denmark terlihat sexy ketika bersepeda di jalan. Apalagi mereka bersepeda dengan dandanan cewek yang super modis :D. Ga ada tuh istilah gengsi bersepeda di sini. Itu yang aku suka sekali!

Selain itu enaknya tinggal di Denmark, kesempatan kita untuk menambah ilmu dan wawasan sangat lah terbuka luas. Pihak pemerintah melalui kantor kommune, lembaga-lembaga pendidikan formal-informal, dan beberapa LSM memiliki program-program edukatif berupa kursus-kursus singkat beragam topik dari sosial budaya, kesenian, olahraga, pengembangan diri, hingga ketrampilan. Semuanya terbuka luas bagi setiap penduduk. Banyak di antaranya yang bahkan gratis alias tidak dipungut biaya samasekali. Jadi tidak ada istilah hidup pasif di sini karena semua kesempatan untuk mengembangkan wawasan tersedia lengkap.

Aku sendiri memilih untuk mulai bekerja secara sukarela untuk Palang Merah Denmark Slagelse. Mereka memiliki program pendampingan terhadap remaja perempuan usia sekitar 13 hingga 20 tahun yang telah memiliki anak. Kebanyakan dari mereka adalah orangtua tunggal dan tidak mendapatkan dukungan samasekali dari siapapun dalam keluarga mereka. Palang Merah Denmark Slagelse menjadi semacam fasilitator jaringan ibu-ibu muda ini sehingga mereka dapat saling mendukung dan membantu satu sama lainnya. Aku mungkin akan ditempatkan untuk membantu kelompok anak-anak mereka yang berusia antara 3 hingga 7 tahun. Ketua PM Denmark Slagelse menempatkan aku di kelompok anak-anak itu karena dia yakin kemampuanku berbahasa Danish dapat cepat terasah bila sering berinteraksi dengan anak-anak :D . ´´Mereka tidak perduli tata bahasamu salah, yang mereka perlukan adalah kepribadian yang FUN dan energik. Saya rasa kamu cocok´´ , begitu katanya ketika kami bertemu membahas pekerjaan apa yang bisa aku lakukan pertamakali.

Proyek selanjutnya, dia mengharapkan aku dapat membantu membentuk kelompok imigran atau pendatang di Denmark yang hidupnya desperate. Pola pendekatan adalah melalui pendekatan secara personal karena banyak diantara mereka sangat-sangat membutuhkan seseorang yang bisa menjadi LIFE WITNESS alias menjadi sahabat yang mau mendengarkan dan malakukan sesuatu yang sederhana tanpa tumpang tindih dengan layanan yang mereka telah terima dari kommune setempat. Kelompok kedua ini diharapkan kedepannya dapat terpadu dengan kelompok pertama . Namun untuk proyek kedua ini, dia menunggu hingga kemampuanku berbahasa Danish sudah lebih bagus daripada sekarang. Sebagai imbalannya Palang Merah Denmark Slagelse akan mengikutsertakan aku dalam berbagai kursus-kursus terkait tanpa harus membayar SEPESERPUN!

Tentu , aku sangat sangat antusias sekali :D. Hari-hariku berarti tidak hanya melulu sekolah bahasa dan rumah tangga. Namun aku akan mulai berbaur langsung dengan masyarakat Denmark melalui akses dari Palang Merah Denmark Slagelse. Memang saat ini, aku tidak akan mendapatkan uang sepeserpun, namun kesempatan untuk belajar dan membuka wawasan baru buatku lebih berharga dari lembar-lembar uang yang bisa habis dibelanjakan hanya dalam hitungan jam.

Wednesday, July 28, 2010

Teman-teman Bebek

Ketika menjalani hidup kita harus melihat ke depan, tapi bukan berarti kita tidak samasekali melihat ke belakang. Pengalaman masa lalu mengajarkan kita untuk tidak mengulang kesalahan yang sama, sehingga langkah kita ke depan akan menjadi lebih baik. Tentunya kita tidak ingin jatuh ke lubang yang sama, bukan?

Seperti juga pengalamanku berteman dengan banyak orang di masa lalu. Banyak kesalahan yang telah aku buat dalam memperlakukan diriku sendiri dalam konteks pertemanan. Naif begitulah kata yang mungkin tepat aku sandingkan buat diriku sendiri saat itu.

Dulu aku tidak pandai membedakan antara teman sejati dan teman palsu. Yang penting ramai-ramainya, makan siang bareng, belanja bareng, dugem bareng, pergi ke pesta bareng dan sebagainya dan sebagainya pokoknya bisa bareng-bareng seperti kawanan bebek yang terbang di langit. Kuantitas teman menjadi lebih penting dari kualitas pertemanan itu sendiri.

Ketika bertemu dengan banyak teman, salah satu hal yang sulit sekali dihindari adalah membicarakan teman yang lain (yang nota bene mungkin masih berada dalam lingkar pertemanan yang sama). Alih-alih membicarakan hal yang positif dari sang teman, kita malah asyik bergunjing hal-hal yang sebetulnya bukan menjadi urusan kita sebagai teman. Kita begitu asyik membicarakan keburukan atau hal-hal negatif teman kita sendiri. Ironiknya kita sangat menikmati perbincangan tersebut. Kita senang melihat penderitaan teman kita dan dengan segenap hati menyorakinya.

Apakah ini refleksi atas kekecewaan kita sendiri terhadap hidup yang kita lakoni? Seolah-olah dengan bergosip dan mentertawai nasib buruk teman kita, hidup kita sendiri menjadi terasa lebih ringan dan menjadi lebih baik?? Sakit memang kedengarannya, tapi itulah yang kurasakan kita aku dulu sering berteman dengan gaya bebek.

Orang-orang dalam lingkar pertemanan bebek itu, uniknya juga merupakan korban-korban gosip dari teman-teman bebek yang lainnya. Si A misalnya ketika bertemu dengan B, akan membicarakan keburukan si C. Si C ketika bertemu dengan A akan membicarakan keburukan si B, dan ketika mereka bertemu bertiga , mereka akan bergosip ria tentang si D atau si E atau siapa saja yang tengah menjadi perhatian mereka, dan seterusnya dan seterusnya. Sepertinya hidup orang lain sungguh menarik untuk dibicarakan, atau bahkan dibumbui sehingga lebih sedap ketika disampaikan ke orang lain.

Aku sendiri tentu tidak kaget ketika seorang kenalan baru tiba-tiba menyampaikan keprihatinannya atas cerita-cerita yang dia dengar tentang kehidupan masa laluku. Aku tidak perlu repot-repot bertanya siapa narasumbernya, karena sudah pasti cerita yang dia dengar itu datangnya dari kawanan teman-teman bebekku itu, dan itupun dia amini. Aku sendiri geli ketika setelah sekian lama tidak bertemu dengan teman-teman bebekku itu, tiba-tiba ada orang asing yang mangajak berkenalan karena saking penasarannya membandingkan antara aku dalam cerita-cerita versi teman-teman bebekku dengan aku sendiri yang kebetulan dia lihat melalui facebook atau ketika tidak sengaja bertemu di suatu acara ketika aku dan keluarga masih berada di Indonesia.

Aku bilang ke dia, aku tidak apa-apa. Cerita yang mereka sampaikan ke dia mungkin benar adanya, walau mungkin agak-agak didramatisir biar lebih seru hehehe. Cuma yang menjadi keherananku, orang itu tidak kenal aku sebelumnya, kok ya repot-repot banget teman-teman bebekku itu harus cerita tentang masa lalu ku ke dia. Apa mereka kurang kerjaan ya di kantornya? :D

Sekarang aku ingin bersikap lebih hati-hati. Bukan aku tidak ingin memiliki teman yang banyak. Tapi buatku kualitas pertemanan saat ini lebih penting daripada banyak teman tapi tidak merasa nyaman. Tentu aku juga manusia biasa, yang bisa merasa sakit ketika mendengar cerita kehidupannya diumbar-umbar tanpa rasa jengah sedikitpun. Seolah-olah ketika membicarakan orang lain, hidup kita sendiri lebih baik atau lebih mulia. Dan juga menilai orang dengan standar yang kita buat sendiri. Kita lupa bahwa masih ada Tuhan yang mencatat semuanya. Mencatat kemunafikan yang kita lakukan terhadap orang-orang yang kita panggil sebagai teman.

Sunday, July 18, 2010

Hari yang panjang di kampung halaman HC Andersen

Puisi karya HC Andersen yang aku baca ketika mengunjungi Museum HC Andersen di Odense

R
asanya excited banget ketika aku berkesempatan melakukan perjalanan sendiri untuk pertamakalinya di Denmark dengan kereta Slagelse-Odense. Suami memberiku libur dari aktivitas rumah tangga, ``You need to having fun with your friends, just go dont worry about Bintang``, ujar Lars ketika aku sampaikan niatku mengunjungi Kadek teman Indonesiaku yang bertempat tinggal di Odense.

Odense merupakan kota tempat kelahiran penulis dongeng terkenal Hans Christian Andersen. Aku mengenal dongeng-dongengnya sejak kecil. Beberapa karya beliau sangat melekat di pikiran hingga kini. Jadi ketika aku keluar dari stasiun kereta Odense, pertamakali yang HARUS aku kunjungi adalah Museum HC Andersen. Jadi Kadek dengan senang hati mengantarku ke sana.
Setelah dari museum kami berjalan kaki menuju apartemen Kadek. Setelah beristirahat sejenak, aku membantu Kadek memotong-motong sayuran bahan pecel dengan bumbu pecel kiriman bapakku. Kadek sendiri sudah memasak ayam betutu dan baso sapi. Setelahnya Kadek juga membuat pangsit isi ayam dan udang. Semuanya makanan khas Indonesia yang SUPER LEZAT!!

Menjelang sore, datanglah beberapa teman: Wulan asli Bandung yang sudah 10 tahun tinggal di Denmark, Farah asli Singapura yang sudah tinggal di Denmark 2 tahun, Daniela cewek Bosnia yang tinggal di Denmark setahun lebih. Sambil makan kami saling bertukar cerita dan berdiskusi tentang beberapa hal yang berkaitan dengan kehidupan sebagai pendatang di Denmark. Oya ada satu lagi teman yang datang menyusul yaitu Emma dari Kenya.

Setelah puas makan, kami keluar bersama-sama untuk menikmati kehidupan malam di Odense. Terus terang ini kali pertamanya aku keluar malam di Denmark. Kami menuju salah satu bar & cafe di pusat kota, dan menikmati suasana di sana. Tanpa sungkan kami menghangatkan malam dengan dance bersama-sama diiringi musik yang menghentak. It was very fun indeed!!

Tanpa terasa kami bersama-sama hingga pukul 03.30 pagi!!
Sungguh hari panjang yang menyenangkan di kampung halaman HC Andersen.

Wednesday, June 30, 2010

Jarang Update

Kembali bersekolah membuat waktuku untuk menulis agak tersita. Untungnya, perusahaan dimana aku terdaftar sebagai ghost writer, memahami kondisiku dan mengurangi beban order penulisan artikel setiap minggunya. Atau deadline diperpanjang, sehingga aku cukup banyak waktu untuk menyelesaikan setiap order penulisan.

Selain itu, tentu saja aku juga agak keteteran untuk menulis lagi di blog ini. Padahal banyaakkkkk sekali yang bisa aku tulis. Namun apa daya sampai di rumah, pekerjaan rumah sudah menanti dan setelahnya mata tidak bisa diajak kompromi , jam 9 malam pasti sudah ngantuk sekali.
Padahal sebelum bersekolah, waktu menulisku yang efektif ya antara jam 9 – 12 malam, dimana Bintang sudah tidur dan aku bisa duduk tenang di depan laptop.

Untungnya hari ini libur musim panas telah di mulai. Sekolah bahasaku libur dan masuk kembali tanggal 4 Agustus nanti. Karena aku libur, otomatis Bintang aku liburkan pula dari børnehave. Jadi aktivitas pagiku tak lagi begitu sesibuk ketika harus berangkat sekolah. Setelah selesai sarapan pagi, tadi aku beberes tumpukan pakaian kotor yang harus dicuci, dan juga menscan ijasah-ijasah sekolahku untuk aku kirim ke jasa penerjemah tersumpah di Jakarta. Hasil terjemahan akan aku kirim ke badan pengkajian pendidikan di Denmark. Mereka akan mengkaji ijasah-ijasah yang aku miliki guna disesuaikan dengan standar sistem pendidikan di Denmark. Hasil pengkajian yang akan aku terima nanti dapat aku gunakan untuk meneruskan studi atau melamar pekerjaan di Denmark.

Tidak terasa sudah 4 bulan aku di Denmark. Alhamdulilah proses kependudukan ku di sini lancar-lancar saja. Sekolah bahasa juga aku jalani dengan senang hati. Karena harus bersekolah setiap hari Senin hingga Jumat, lumayan bahasa Danishku mulai pelan-pelan terasah. Aku mulai bisa menjawab atau bercakap-cakap dengan dengan orang asing yang bertanya sesuatu, misalnya seorang bapak tua yang menanyakan rute bis ketika aku dan Bintang tengah menunggu bis yang akan membawa kami pulang ke rumah. Atau ketika harus berhubungan dengan layanan masyarakat seperti: kantor kommune dan dokter. Walau masih kaku aku mencoba semaksimal mungkin menggunakan Bahasa Danish yang sudah aku dapatkan dari sekolah. Doakan ya mudah-mudahan tahun depan aku sudah fasih :)

Aku juga mulai mendapatkan beberapa teman baru. Eh, ternyata di kota di mana aku tinggal ada dua orang perempuan Indonesia yang sudah lebih dahulu menetap di sana. Salah satunya Nining, asli Solo, dia sudah 3 tahun tinggal di Denmark. Sudah beberapa kali ini aku bertemu dan jalan bareng dengannya. Rasanya senang sekali bisa bertemu teman sebangsa terutama ketika mereka tinggal di kota yang sama. Dari mereka aku mendapatkan banyak sekali info-info penting berkaitan dengan pendidikan dan pekerjaan di Denmark.

Monday, June 7, 2010

Belajar Mandiri

Bicara tentang kemandirian sebenarnya bukan hal yang baru buatku. Sepanjang perjalanan usiaku yang tidak lagi muda (tahun ini akan menginjak 36 tahun), terdapat beberapa fase-fase di mana aku dipaksa menjadi lebih mandiri dan tidak terlalu tergantung pada orang-orang di sekitarku.

Latar belakang ku sebagai anak dari keluarga broken home juga menjadi salah satu pemicu kondisi yang saat itu mau tak mau memaksaku keluar dari kepompong hangat bernama ketergantungan dan kemanjaan.

Namun aku tidak memungkiri ada saat-saat dimana kehidupanku dipenuhi fasilitas yang luar biasa; 5 tahun menikah dengan seorang ekspatriat dan tinggal di negeri gemah rimpah loh jinawi : Indonesia. Di mana kami hidup bagaikan kaum bangsawan, di dalam rumah mewah dan mendapatkan pelayanan pembantu, supir, satpam, dan baby sitter. Terus terang aku menikmatinya, namun mencoba untuk tidak larut di dalamnya. Alam bawah sadarku bilang: ini hanya sementara saja dan hidup itu berputar bagaikan roda. Apa yang kau miliki saat ini belum tentu akan terus kau miliki ...

Roda itu sekarang membawaku ke negeri ini, negeri dimana suamiku berasal. Di mana kemandirian sangat dihargai dan menjadi modal utama untuk bertahan hidup. Terus terang aku juga sangat menikmatinya, menjalaninya dengan percaya bahwa aku sanggup dan mampu.

Aku percaya di setiap perjalanan hidup yang aku singgahi akan menempaku menjadi lebih kuat dan tegar namun semoga tidak menjadikanku tinggi hati dan lupa diri. Aku ingin mengambil setiap nilai-nilai positif di dalam perjalanan kehidupanku, menghidupkannya terus dalam hidupku, dan bersyukur karenanya. Meskipun begitu, hal-hal negatif yang pernah terjadi tidak akan pernah aku lupakan, aku bersyukur pernah mengalaminya, karena tanpa itu semua aku bukanlah aku yang sekarang.

Hari-hariku sekarang kugunakan untuk melatih diri menjadi pribadi yang lebih sabar dan tekun. Kembali bersekolah lagi, mencoba sebaik mungkin menjalaninya dan berharap akan memetik hasilnya di masa depan. Memang bukan hal yang mudah, namun aku yakin aku pasti bisa :)

Wednesday, May 12, 2010

Persamaan yang memiliki konsekuensi

Kesan kuat yang kurasakan ketika mengenal kehidupan dan budaya Denmark adalah karakter perempuan Denmark yang kuat. Kuat yang kumaksud adalah 'mereka tahu apa yang mereka mau' serta 'lebih berani mengambil keputusan untuk hidup mereka sendiri'. Kesan kuat itu semakin bertambah ketika mendengar intonasi bahasa Danish yang keluar diucapkan dari mulut perempuan Danish terkesan lebih keras dan menghentak daripada laki-laki. Tentu saja semua ini adalah murni subyektivitas dari apa yang kurasakan dan kudengar sehari-hari ketika berinteraksi dengan keluarga dan teman-teman di sini.

Ketika kusampaikan hal ini kepada beberapa teman perempuan Danish, kesan kuat yang kurasakan itu mungkin disebabkan oleh pola asuh anak di Denmark. “Di Denmark, sejak kecil kami telah diberi ruang gerak dan kesempatan yang sama dengan anak laki-laki sehingga kami tidak takut untuk bersaing secara sehat dengan mereka”, jelas Dorte kawan baruku yang memiliki keahlian dalam mendesign pakaian, namun memutuskan untuk meneruskan pendidikan S2 nya dalam bidang psikologi anak. Selain itu di Denmark kaum perempuan sangat dilindungi secara hukum baik dalam aspek kehidupan keluarga (hubungan suami-istri) maupun kehidupan di dunia kerja.

Namun menurut Dorte, kondisi ‘persamaan’ tersebut tidak serta merta menguntungkan perempuan, karena ternyata juga menimbulkan dilema di dalam diri si perempuan sendiri. Misalnya ketika perempuan itu bekerja full time dan suatu waktu dia menikah, hamil dan harus mengasuh anak. Kebanyakan perempuan Danish sebetulnya lebih memilih untuk dapat cuti hamil lebih lama daripada hanya 12 bulan (peraturan cuti hamil di Denmark) dan menikmati kehidupan sebagai seorang ibu rumah tangga full time dan tidak perlu bekerja di luar rumah. Namun perempuan yang hanya menjadi ibu rumah tangga saja masih sangat janggal di Denmark. Selain itu kaum laki-laki atau suami lebih menyukai istrinya untuk juga bekerja menghasilkan uang dalam rangka membantu kehidupan ekonomi (bukan sekedar mencari aktualitas), karena di Denmark penghasilkan dari suami saja tidak akan cukup untuk menopang kehidupan suatu keluarga dengan anak-anak . Walau sekolah dan kesehatan 100% gratis, namun biaya hidup di Denmark sangatlah tinggi. Selain itu sistem sosial di Denmark sangat mengharapkan perempuan untuk turut berperan aktif dalam dunia kerja sehingga dapat memberikan kontribusi berupa pajak yang akan dimanfaatkan kembali untuk kehidupan masyarakat bersama (sekolah, kesehatan, pembangunan infrastruktur, dsb).

Beda sekali dengan di Indonesia, dimana bekerja full time masih menjadi pilihan alternatif bagi sebagian kaum perempuan. Perempuan di Indonesia masih dapat leluasa memilih untuk bekerja (itu juga kalau diijinkan suami ) atau tinggal di rumah menjadi ibu rumah tangga full time. Tentu saja tidak semua kaum perempuan Indonesia memiliki hak istimewa seperti itu, banyak juga perempuan-perempuan yang harus bekerja demi mempertahankan hidup misalnya perempuan pekerja pabrik, pekerja seks komersial, dan masih banyak contoh lainnya dimana perempuan mau tak mau harus bekerja di luar rumah.

Selain itu persamaan antara laki-laki dan perempuan tidak 100% mutlak berlaku di negeri ini. Misalnya ketika pemilihan ketua organisasi terdapat dua orang kandidat satu orang laki-laki dan satu orang perempuan. Walaupun secara kualitas keduanya sama, kemungkinan besar organisasi itu akhirnya akan diketuai oleh sang laki-laki karena lebih hemat secara biaya. Perempuan Danish dengan fasilitas dan perlindungan yang dia miliki ternyata dianggap sebagai ‘produk mahal’ (misalnya karena dia tetap mendapatkan gaji full walau cuti hamil selama 1 tahun) belum lagi hak-hak mengajukan keluhan/ complain. Jadi seperti senjata makan tuan.

Di dunia kerja walaupun secara hukum dinyatakan secara tegas tidak diperbolehkan membedakan pemberian upah antara laki-laki dan perempuan, namun pada kenyataannya di Denmark perempuan masih mendapatkan gaji yang sedikit lebih rendah daripada laki-laki. “Perempuan Danish tampaknya kurang agresif dalam melakukan negosiasi upah”, begitu jelas suamiku ketika kutanyakan mengenai hal ini.

Jadi ternyata kesan kuat yang kurasakan itu tidak semuanya benar dan tidak semuanya salah. Semuanya mengandung konsekuensinya masing-masing. Misalnya ketika Dorte memutuskan untuk berpisah dan bercerai dengan suami pertamanya . “Saya tidak dapat lagi meneruskan pernikahan itu dan itu merupakan pilihan yang juga dihormatinya (mantan suami)”, ujarnya. Sakit hati dan konflik selama proses perceraian adalah hal yang wajar dan dirasakan oleh hampir semua pasangan yang berpisah. “Mungkin kami di Denmark melihat perceraian ini secara lebih santai saja, jadi kebanyakan orang Denmark setelah bercerai masih menjadi teman dan masalah pengasuhan anak-anak ditanggung bersama-sama”, jelasnya lagi ketika kusinggung bagaimana perempuan Danish menghadapi masalah perceraian.

Sunday, May 9, 2010

Masalah keterasingan dan minimnya promosi tentang Indonesia

Menjadi satu-satunya orang Indonesia di tengah-tengah kerumunan orang-orang Denmark sempat menjadi masalah besar buatku. Dulu pertama kali datang ke Denmark sekitar tahun 2005, aku sempat home sick berat dan merasa kesepian di tengah keramaian ketika harus berada di tengah-tengah mereka. Hal itu terjadi terutama sekali disebabkan kendala bahasa. Aku ngga ngerti sama sekali bahasa Danish dan mereka jarang sekali berbicara dalam Bahasa Inggris, walau Bahasa Inggris mereka tidak kalah bagusnya dengan orang Inggris sendiri 
Dari waktu ke waktu masalah keterasingan itu semakin berkurang kadarnya. Lambat laun aku mulai bisa mengerti dan memahami bahasa dan terutama cara pikir mereka. Kadang-kadang aku memberanikan diri berbicara dalam bahasa mereka. Salah-salah dikit tak apa yang penting nekat :P Mereka memberikan respon yang baik dan membantuku membetulkan pelafalan kata yang aku ucapkan.

Selain kendala bahasa, kendala lainnya adalah kesabaran dan ketahanan fisik ketika kita berada di tengah mereka, misalnya saat makan malam acara keluarga, bertandang ke rumah kawan dekat, pesta babtis dan sebagainya. Soalnya mereka senang sekali ngobrol ngalor ngidul (tapi bukan ngegosip lo :D) dan melontarkan joke-joke yang sulit untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Waktu makan malam keluarga di akhir pekan bisa dimulai dari pukul 7 hingga 12 malam bukan karena ngunyah makanannya yang lama, tapi acara ngobrolnya yang panjannnnnng banget (tentunya diselingi makan pembuka, makan utama, makanan penutup, dan dilanjut lagi dengan minum kopi). Dan itu ngobrolnya sudah pasti dalam bahasa mereka. Dulu sebelum punya Bintang, susah mau pamit mundur karena ngga ada alasan kuat buat aku (ngantuk berat ternyata tidak cukup untuk menjadi alasan). Suamiku pasti ngga akan membolehkan aku tidur lebih dahulu, katanya: “You have to learn our culture” :P . Sekarang setelah ada Bintang lumayan lah ada alasan untuk masuk kamar duluan soalnya harus ngelonin Bintang tidur hehehe. Acara makan buat orang Denmark ternyata bukan hanya untuk mengenyangkan perut yang lapar, tapi benar-benar menjadi ajang sosialisasi dan relaksasi rutin.

Akhir pekan ini, Lars dan aku datang ke pesta ulangtahun seorang kawan baik Lars, Michael Beck yang ke-50 tahun. Dalam acara pesta semi-formal itu aku satu-satunya orang Indonesia (Asia) di antara kurang lebih 60 orang Denmark di sana. Tidak seperti saat pertama merasakan keterasingan karena menjadi minoritas, kemarin aku begitu menikmati suasana pesta. “Be yourself” , begitu mottoku sekarang :D

Aku banyak mendapatkan teman ngobrol yang asyik dan semuanya ternyata pernah mengunjungi Indonesia.

Knud (ayah Dorthe, istri Michael Beck) : “Anna, kenapa kamu meninggalkan negerimu yang indah itu?” “Maunya sih tidak, tapi gara-gara dia nih yang menculikku”, jawabku bergurau sambil melirik Lars suamiku yang berdiri tak jauh dari tempat kami berdiri.

Knud pernah mengunjungi Indonesia 3 kali, dia pernah mengunjungi Danau Toba, Jakarta, Dieng, Pangandaran, dan Banda Aceh. Di Banda Aceh dia dan istrinya sempat mendapat masalah, karena tidak ada satupun hotel yang berani menerima mereka bermalam. Saat itu tahun 1994. Akhirnya setelah lelah mencari tempat bermalam seorang tokoh Aceh membantu mereka mendapatkan tempat menginap di satu-satunya hotel yang ‘tidak takut’ menerima tamu asing, dan hotel itu terletak jauh di luar kota Banda Aceh. Walau pernah mengalami pengalaman yang tidak mengenakkan, dia tidak kapok untuk datang ke Indonesia lagi.
Jacob (mantan suami Sene, adik kandung Michael Beck) juga pernah mengunjungi Indonesia. Dia selama 3 bulan menjadi backpacker di kepulauan Maluku. Dia tinggal bersama-sama penduduk lokal di sana dan mempelajari bahasa setempat. Slogannya: “aku bukan turis” :D

Leif dan Dorte mereka berdua pasangan suami istri sahabat Michael Beck dan Dorthe. Leif pernah berlayar selama 9 bulan menyusuri bagian barat Sumatera hingga Flores. Sedangkan Dorte baru sempat mengunjungi Bali saja dalam rangka berlibur bersama Leif beberapa tahun yang lalu.

Dan terdapat beberapa orang Denmark lainnya yang aku tidak ingat namanya mendatangiku menyalami aku dengan ramah dan bercerita tentang pengalaman mereka ketika datang ke Indonesia. Duh, rasanya bangga sekali Indonesia dikenal oleh orang-orang ini.

Michael Beck sendiri empunya acara, mengunjungi Indonesia bukan lagi hal baru baginya. Dia pernah tinggal di Manado, Semarang dan mengunjungi Bali-Lombok untuk urusan kerja.
Sayangnya, promosi Indonesia tidak segencar promosi Thailand. Aku samasekali belum pernah melihat iklan tentang promosi visit Indonesia di media-media Denmark. Mereka rata-rata tahu tentang Indonesia dari teman atau saudara yang pernah mengunjungi Indonesia dalam urusan pekerjaan atau dinas. Sayang sekali padahal dunia pariwisata kita tidak kalah dengan Thailand atau negara-negara Asia lainnya.

Mudah-mudahan ke depan aku dapat melakukan sesuatu untuk membantu mempromosikan Indonesia di Denmark.