Translate

Wednesday, December 15, 2010

Tradisi Natal yang menyatukan

Walaupun kami sekeluarga bukan penganut ajaran agama tertentu, mengikuti tradisi perayaan Natal merupakan suatu hal menarik yang tidak bisa kami lewatkan begitu saja.

Kali ini giliranku untuk menikmatinya sebagai suatu pengalaman budaya baru, karena suamiku selama kami hampir 7 tahun tinggal di Indonesia sudah kenyang merasakan berbagai pengalaman terkait dengan perayaan agama tertentu, misalnya: Idul Fitri (sempat mencoba ikutan saur dan puasa sehari penuh), Idul Adha (sampai ikutan beli kambing satu ekor!), Imlek, Nyepi, dan sebagainya.

Kenapa aku bilang budaya baru? Karena ini pertama kalinya aku merasakan suasana Natal di Denmark dan perayaan Natal di sini bukan hanya dirayakan oleh penganut agama Kristen saja tapi hampir semua penduduk termasuk muslim, hindu, budha, bahkan atheis ikut serta menyemarakkan suasana.

Perayaan Natal di Denmark memang jauh dari kesan religius. Aku sempat kaget ketika seorang kawan muslim yang berasal dari Afganistan bercerita bahwa dia sudah memasang pohon Natal di apartemennya. Karena penasaran aku pun bertanya apa tidak aneh untuk seorang muslim seperti dia memasang pohon terang di rumahnya? Apakah tidak ada larangan dari ajaran agamanya? Dia tersenyum dan menjawab: ya ada beberapa orang yang seperti itu, tapi aku memilih untuk tidak ambil pusing dan menikmati perbedaan ini dengan santai.

Suatu pernyataan yang cukup langka aku dengar, dan aku menghormatinya sangat. Dia dalam kesehariannya adalah seorang muslim yang taat: sholat 5 waktu, puasa ramadhan, puasa menjelang Idul Adha, tidak makan babi, tidak minum alkohol TAPI MEMASANG POHON TERANG DI RUMAHNYA :). Bagi dia agama adalah konsumsi wilayah pribadi tidak ada seorangpun yang bisa mempengaruhi apa yang harus dia lakukan sebagai seorang muslim di Denmark.

Perayaan Natal merupakan tradisi tahunan yang oleh beberapa orang Denmark tidak hanya dilihat sebagai suatu perayaan agama Kristiani namun juga secara historikal kultural dengan budaya skandinavia misalnya: nisse, yule goat, gløgg, yule log, dan yule boar.

Natal di Denmark dikenal dengan nama Jule yang secara historikal samasekali tidak terkait dengan ajaran agama Kristen. Jul merupakan festival perayaan musim dingin (winter fest) yang dirayakan tepat pada tanggal 25 Desember ( sesuai penanggalan Julian). Namun dalam perkembangannya di Denmark perayaan ini diadopsi dalam perayaan Natal umat Kristen namun tetap dengan menggunakan nama Jul. Jadi ketika kita mengucapkan selamat Natal di Denmark, maka kita akan mengucapkan:

GLÆDELIG JUL!!

Friday, December 10, 2010

There is no such thing as bad weather ...


Tahun ini merupakan pertamakalinya aku merasakan perubahan musim di Denmark. Ketika datang sekitar awal Maret 2010 musim dingin di Denmark tengah berakhir walaupun masih menyisakan satu – dua minggu salju. Saat itu merupakan kelanjutan musim dingin 2009 yang panjang.

Kemudian di awal penghujung April 2010 kami merasakan betapa indahnya musim semi. Pucuk-pucuk daun dan bunga mulai bermekaran menyambut hangatnya mentari. Warna-warna kontras alam begitu menawan hati memberikan semangat baru menuju ke musim panas yang sangat dinanti.

Juli hingga September 2010, merupakan musim panas terhangat yang pernah aku rasakan. Suhu udara bahkan pernah mencapai 35 derajad celcius! Tentu orang-orang di sini menikmati anugrah kehangatan ini dengan semestinya: beraktivitas di luar rumah memenuhi rongga paru-paru mereka dengan segarnya aroma alam musim panas sembari mencoklatkan kulit mereka yang pucat.

Sayang, musim panas harus berganti menjadi musim gugur ketika September mulai berakhir. Namun keindahan alam masih sangat menawan kala perubahan musim kita amati dengan semua indera yang kita miliki. Warna-warna kontras : kuning, merah, oranye, coklat, lila mulai bermunculan. Pohon-pohon mulai meranggas kedinginan menanggalkan daun-daunnya dan beterbangan ditiup angin. Betul-betul musim yang dapat membangkitkan aura sentimentil.

Perubahan-perubahan yang kuamati begitu tegas batasnya, walau bagi beberapa orang semua ini biasa dan tidak istimewa . Sama misalnya dengan kita yang sudah terbiasa hidup dalam 2 musim di Jakarta, berangkat dan pulang bekerja di tengah sumpeknya lalu lintas, polusi udara, dan sebagainya. Batas-batas perubahan menjadi blur dan tidak begitu menarik untuk diulas.

Kini musim dingin di Denmark telah tiba dengan segenap hati: hujan salju dan suhu udara yang drop di bawah nol derajad celcius menyebabkan kekacauan transportasi udara dan darat. Jadwal penerbangan menjadi berantakan, serta kereta dan bis datang terlambat mengantar penumpang ke tempat tujuan.

Namun lepas dari semua kesulitan yang disebabkan oleh musim dingin, semuanya masih baik-baik saja. Aku tetap sehat, jarang sakit dan yang terpenting tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hariku dengan dengan baik.

Jadi tidak ada istilah musim atau cuaca yang buruk, karena semuanya tergantung seberapa tebal pakaian yang Anda kenakan. Terjemahan bebas dari peribahasa masyarakat yang hidup dalam 4 musim:
´´ There is no such thing as bad weather – it is a question at how you dress ´´
.

Sunday, November 14, 2010

Duh semakin susah nih untuk tinggal menetap di Denmark

Desas desus adanya peraturan baru dari pemerintah Denmark untuk para calon pendatang baru ternyata bukan cuma isapan jempol. Per tanggal 15 Nopember 2010 resmi berlaku aturan baru bagi para pendatang yang mengajukan ijin tinggal sementara karena mengikuti anggota keluarga yang telah terlebih dahulu tinggal di Denmark (family reunification temporary resident permit). Aturan baru itu adalah: pihak pengaju ijin tinggal HARUS LULUS TEST IMIGRASI!

Testnya sendiri dilaksanakan di Denmark. Jadi pengaju ijin tinggal mau tidak mau harus datang ke Denmark untuk mengikuti test tersebut.

Testnya berlangsung selama 30 menit terdiri dari 2 jenis test: test bahasa dan pengetahuan umum tentang Denmark. Dua jenis test ini berlangsung tanpa jeda istirahat. Test terdiri dari 70 pertanyaan. Kita dinyatakan lulus, bila minimal bisa menjawab benar 28 pertanyaan test bahasa dan 21 pertanyaan test pengetahuan. Penting dicatat bahwa test ini hanya diadakan dalam BAHASA DANISH dan dalam bentuk ORAL TEST (kita harus menjawab secara lisan dalam bahasa Danish! ) secara komputerisasi. Untuk ikut serta dalam test ini peserta harus mendaftar terlebih dahulu dan harus membayar sebesar DKK 3000 (atau kurang lebih 6 juta rupiah!)

Bila kita tidak lulus test imigrasi ini, maka berarti kita gagal mengajukan ijin tinggal di Denmark dan harus kembali pulang ke negara asal. Di negara asal, kita bisa mengajukan pengajuan baru lagi.

Karena itulah pemerintah Denmark menekankan bahwa mempelajari bahasa Danish ADALAH TANGGUNGJAWAB KITA SENDIRI. Dalam situs nyidanmark.dk mereka memberi beberapa sumber belajar bahasa Danish melalui CD maupun secara online.

Pemerintah Denmark telah menyiapkan paket persiapan yang dapat digunakan sebagai media belajar sebelum mengikuti test imigrasi. Paket persiapan ini terdiri dari:

  1. Film pendidikan Hidup di Denmark berdurasi 90 menit terdiri dari 17 bagian (dengan 18 alih bahasa).
  2. Daftar kata-kata Danish.
  3. 100 foto-foto dari film yang berkaitan dengan sosial budaya Denmark.
  4. 2 contoh test bahasa dan instruksi test.

Sayangnya paket persiapan ini TIDAK GRATIS. Kita harus membayar kurang lebih DKK 206, 25 (kurang lebih 400 ribu rupiah). PAKET HANYA BISA DIKIRIM KE ALAMAT DI DENMARK.

Selain itu DESAS DESUS yang sayangnya belum aku dapatkan status infonya di situs pemerintah DK (cuma baru aku dengar dari debat di tv dan radio) bahwa ada rencana menaikkan uang jaminan (Collateral Requirement) dari DKK 62,231 (sekitar Rp 120 juta) per 2010 menjadi DKK 100,000 (atau kurang lebih Rp 200 juta). Uang jaminan ini adalah salah satu persyaratan yang harus dipenuhi ketika kita mengajukan ijin tinggal sementara family reunification.

Untuk info lengkapnya silakan cek di situs New to Denmark
Bila ada yang mau ditanya secara personal silakan email di kristinabudiati@gmail.com

Sunday, October 3, 2010

Berburu jamur di dalam hutan

Memasuki bulan Oktober, suhu udara semakin terasa dingin karena memasuki pertengahan musim gugur menuju musim dingin yang beku. Inilah musim gugur pertamaku di Denmark.
Daun-daun mulai berguguran dan berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan. Lambat laun semuanya akan gugur dan nyaris tak ada tumbuhan yang sanggup hidup dalam kebekuan musim dingin nanti.

Saat musim gugur seperti ini banyak orang mulai mencari jamur di hutan. Banyak jenis jamur liar yang dapat dimakan, namun banyak juga yang beracun dan mematikan.

Akhir pekan ini, aku menginap di rumah kakak ipar yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari hutan. Kami berjalan menyusuri hutan dan hari itu kami beruntung menemukan banyak jamur terompet hitam ( Craterellus Cornucopioides). Bentuk jamurnya seperti namanya berbentuk seperti terompet dengan warna hitam yang sangat tidak menarik.

Aku sempat heran ketika tahu bahwa jenis jamur ini ternyata bisa dimakan karena penampilan luarnya yang tampak berbahaya. Kakak iparku malah bilang bahwa banyak jamur yang berwarna putih bersih layaknya jamur merang atau jamur champignon malah sangat beracun dan potensial mematikan. Sekitar satu bulan yang lalu aku juga mendengar berita satu keluarga China yang tinggal di Denmark tewas secara mengenaskan setelah mengkonsumsi jamur liar (yang tampak mirip jamur merang atau champignon) yang mereka temukan di dalam hutan.

Karena itulah kita tidak boleh sembarangan berasumsi jamur yang kita lihat tumbuh di dalam hutan dapat kita makan hanya dari penampilan luarnya saja. Kakak iparku memiliki buku panduan jenis-jenis jamur liar sehingga kita dapat mengetahui jenis-jenis mana saja yang dapat dimakan dan yang tidak boleh dimakan.

Jamur terompet hitam yang kami temukan setelah dibersihkan (hanya dibuang ujung akarnya dan tidak perlu dicuci dengan air karena bila basah rasanya tidak lagi enak) dimasak dengan saus krim sebagai pendamping steak daging sapi. Besok paginya sebelum pulang ke rumah, kami mencari lagi jamur terompet hitam di tempat yang sama dan mendapati beberapa untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Kali ini jamur hitam aku jadikan santapan makan siang dengan paduan omelet telur. Yummy!

Wednesday, August 11, 2010

Aktif di Denmark

Tanpa terasa sudah hampir 6 bulan, aku menjalani hari-hari baruku di Denmark. Setiap kali ditanya dalam bahasa Danish `´Kan du god lide bor i Danmark?´` (betah tidak tinggal di Denmark), aku pasti mengangguk tersenyum dan mencoba menjawab diplomatis ´´hidup di sini lebih berat daripada ketika di Indonesia, namun saya mencoba menjalaninya´´.

Kendala utama hidup di dataran utara Eropa ini bukan hanya soal cuaca yang lebih sering dinginnya daripada panasnya, namun juga aspek-aspek lain seperti perbedaan bahasa dan budaya. Banyak saudara atau teman yang mengira hidup dan tinggal di Denmark lebih enak daripada tinggal di Indonesia, pemikiran itu belum tentu benar, tapi bukan berarti salah sama sekali.

Hidup di Denmark berat karena setiap individu dewasa dan normal di sini harus dapat menjalani hidup secara mandiri dan memberikan kontribusi positif kepada negara melalui pajak pendapatan dan juga peran aktif di dalam masyarakat. Selain itu ngga enaknya, hampir semua barang dan jasa di Denmark harganya alamak mahalnya (apalagi kalau kita bandingkan harganya dengan di Indonesia, bagai bumi dan langit!). Ketika di Indonesia, ketika berbelanja di supermarket , hampir tak pernah aku mengecek harga barang yang mau diambil atau membanding-bandingkan harga dari setiap produk, namun di Denmark, para konsumen sangat aware terhadap harga produk karena akan sangat mempengaruhi jumlah pengeluaran belanja mereka sehari-hari. Jadi mereka sangat-sangat teliti sebelum membeli. Beda harga sedikit sangatlah berarti :D

Selain itu tak perduli betapa sibuk dan lelahnya pasangan suami istri bekerja di luar rumah mencari nafkah, ketika mereka tiba di rumah semua pekerjaan rumah tangga seperti membersihkan rumah, memasak, mencuci , merawat anak dan sebagainya harus dikerjakan secara bersama-sama tanpa membedakan ini tugas suami, itu tugas istri, karena di Denmark jarang sekali keluarga memiliki pembantu rumah tangga. Mungkin hanya keluarga kerajaan atau bangsawan saja yang punya karena gaji pembantu di Denmark bukan dihitung secara bulanan, namun per jam dan itu juga tidak full 24 jam seperti mbak-mbak kita di Indonesia :P. Seorang Ou Pair (baby sitter) keluarga kaya, dia hanya boleh bekerja 4 jam dalam sehari dan mendapatkan libur 2 hari dalam seminggu. Gaji bersihnya nya sekitar 4000-5000 DKK perbulan atau sekitar Rp 7-8 juta. Pajak pendapatan Ou pair tersebut juga ditanggung oleh sang majikan. Gaji tersebut termasuk kecil di Denmark karena harga barang dan jasa yang sangat-sangat mahal di sini. Jadi gaji segitu, hitung-hitung hanya untuk uang saku atau uang jajan si Ou Pair karena dia tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli makanan dan tempat tinggal. Semuanya ditanggung oleh majikan. Ayo siapa yang mau jadi Ou pair di Denmark? :D

Jadi seperti di keluargaku yang nota bene sama sekali bukan keluarga bangsawan :P, pagi-pagi sekali sekitar pukul 6 pagi aku sudah bangun dan menyiapkan keperluan Bintang seperti kotak makan siang dan keperluannya selama di bornehave. Suamiku Lars dengan kesadaran dan tanggungjawabnya yang tinggi, juga bangun dan membantuku menyiapkan sarapan pagi. Setelah beres mendadani Bintang, dia akan mengantar kami. Pertama dia akan mengantarku ke sekolah bahasa dan kemudian mengantar Bintang ke bornehave. Setelah itu dia akan kembali ke rumah dan bekerja dari rumah. Sementara ini selain bekerja secara paruh waktu sebagai konsultan, profesi utamanya adalah sebagai supir keluarga dan tukang masak :D . Semua itu dia lakoni dengan senang hati dan tanpa keluh kesah. Bahkan terkadang dia tanpa sungkan membantu menjemurkan pakaian-pakaian basah dari mesin cuci. Entah bagaimana rasanya, bila aku harus hidup tanpanya. Dia suami yang sangat ringan tangan (bukan berarti suka memukul istri ya) :P.

Berat memang hidup tanpa pembantu, itu jujur yang aku rasakan. Namun lambat laun aku bisa mengatasinya dan mulai menikmatinya :D. Aku juga belajar tidak manja dan mentang-mentang. Dulu ketika di Jakarta, untungnya aku tidak terlalu maniak pergi kemana-mana dengan taksi. Pergi dan pulang dari kampus UI Salemba setiap harinya aku pasti selalu menggunakan mikrolet, walau harus menyambung berkali-berkali hingga kediaman mewahku di Pejaten Barat :D. Mungkin buat orang yang tahu aku ´´istri orang bule´´ pasti akan bertanya-bertanya. Tapi aku ga perduli, karena sejak SD aku memang suka naik mikrolet dan tidak akan berhenti hanya karena aku sudah menikah dengan bule. Malah aku kadang-kadang saat libur iseng mengajak suamiku naik metro mini, kopaja dan bahkan KRL ekonomi ke Bogor . Kami juga sering nongkrong santai di tenda bebek goreng yang ada di pinggir jalan di sekitar Blok M :D. I am is I am :D. I will never change :D

Jadi ketika tinggal di Denmark, aku tidak peduli mobil apa yang aku punya, naik apa aku ke sekolah nanti dsb.dsb.. malah buat aku naik bis di Denmark sangat-sangat praktis dan FUN. Aku berencana pertengahan September nanti ketika kami pindah lagi ke kota Slagelse, kendaraan utama yang akan aku gunakan untuk berangkat sekolah dan menjemput Bintang adalah SEPEDA. Selain praktis dan sehat, aku lihat perempuan di Denmark terlihat sexy ketika bersepeda di jalan. Apalagi mereka bersepeda dengan dandanan cewek yang super modis :D. Ga ada tuh istilah gengsi bersepeda di sini. Itu yang aku suka sekali!

Selain itu enaknya tinggal di Denmark, kesempatan kita untuk menambah ilmu dan wawasan sangat lah terbuka luas. Pihak pemerintah melalui kantor kommune, lembaga-lembaga pendidikan formal-informal, dan beberapa LSM memiliki program-program edukatif berupa kursus-kursus singkat beragam topik dari sosial budaya, kesenian, olahraga, pengembangan diri, hingga ketrampilan. Semuanya terbuka luas bagi setiap penduduk. Banyak di antaranya yang bahkan gratis alias tidak dipungut biaya samasekali. Jadi tidak ada istilah hidup pasif di sini karena semua kesempatan untuk mengembangkan wawasan tersedia lengkap.

Aku sendiri memilih untuk mulai bekerja secara sukarela untuk Palang Merah Denmark Slagelse. Mereka memiliki program pendampingan terhadap remaja perempuan usia sekitar 13 hingga 20 tahun yang telah memiliki anak. Kebanyakan dari mereka adalah orangtua tunggal dan tidak mendapatkan dukungan samasekali dari siapapun dalam keluarga mereka. Palang Merah Denmark Slagelse menjadi semacam fasilitator jaringan ibu-ibu muda ini sehingga mereka dapat saling mendukung dan membantu satu sama lainnya. Aku mungkin akan ditempatkan untuk membantu kelompok anak-anak mereka yang berusia antara 3 hingga 7 tahun. Ketua PM Denmark Slagelse menempatkan aku di kelompok anak-anak itu karena dia yakin kemampuanku berbahasa Danish dapat cepat terasah bila sering berinteraksi dengan anak-anak :D . ´´Mereka tidak perduli tata bahasamu salah, yang mereka perlukan adalah kepribadian yang FUN dan energik. Saya rasa kamu cocok´´ , begitu katanya ketika kami bertemu membahas pekerjaan apa yang bisa aku lakukan pertamakali.

Proyek selanjutnya, dia mengharapkan aku dapat membantu membentuk kelompok imigran atau pendatang di Denmark yang hidupnya desperate. Pola pendekatan adalah melalui pendekatan secara personal karena banyak diantara mereka sangat-sangat membutuhkan seseorang yang bisa menjadi LIFE WITNESS alias menjadi sahabat yang mau mendengarkan dan malakukan sesuatu yang sederhana tanpa tumpang tindih dengan layanan yang mereka telah terima dari kommune setempat. Kelompok kedua ini diharapkan kedepannya dapat terpadu dengan kelompok pertama . Namun untuk proyek kedua ini, dia menunggu hingga kemampuanku berbahasa Danish sudah lebih bagus daripada sekarang. Sebagai imbalannya Palang Merah Denmark Slagelse akan mengikutsertakan aku dalam berbagai kursus-kursus terkait tanpa harus membayar SEPESERPUN!

Tentu , aku sangat sangat antusias sekali :D. Hari-hariku berarti tidak hanya melulu sekolah bahasa dan rumah tangga. Namun aku akan mulai berbaur langsung dengan masyarakat Denmark melalui akses dari Palang Merah Denmark Slagelse. Memang saat ini, aku tidak akan mendapatkan uang sepeserpun, namun kesempatan untuk belajar dan membuka wawasan baru buatku lebih berharga dari lembar-lembar uang yang bisa habis dibelanjakan hanya dalam hitungan jam.

Wednesday, July 28, 2010

Teman-teman Bebek

Ketika menjalani hidup kita harus melihat ke depan, tapi bukan berarti kita tidak samasekali melihat ke belakang. Pengalaman masa lalu mengajarkan kita untuk tidak mengulang kesalahan yang sama, sehingga langkah kita ke depan akan menjadi lebih baik. Tentunya kita tidak ingin jatuh ke lubang yang sama, bukan?

Seperti juga pengalamanku berteman dengan banyak orang di masa lalu. Banyak kesalahan yang telah aku buat dalam memperlakukan diriku sendiri dalam konteks pertemanan. Naif begitulah kata yang mungkin tepat aku sandingkan buat diriku sendiri saat itu.

Dulu aku tidak pandai membedakan antara teman sejati dan teman palsu. Yang penting ramai-ramainya, makan siang bareng, belanja bareng, dugem bareng, pergi ke pesta bareng dan sebagainya dan sebagainya pokoknya bisa bareng-bareng seperti kawanan bebek yang terbang di langit. Kuantitas teman menjadi lebih penting dari kualitas pertemanan itu sendiri.

Ketika bertemu dengan banyak teman, salah satu hal yang sulit sekali dihindari adalah membicarakan teman yang lain (yang nota bene mungkin masih berada dalam lingkar pertemanan yang sama). Alih-alih membicarakan hal yang positif dari sang teman, kita malah asyik bergunjing hal-hal yang sebetulnya bukan menjadi urusan kita sebagai teman. Kita begitu asyik membicarakan keburukan atau hal-hal negatif teman kita sendiri. Ironiknya kita sangat menikmati perbincangan tersebut. Kita senang melihat penderitaan teman kita dan dengan segenap hati menyorakinya.

Apakah ini refleksi atas kekecewaan kita sendiri terhadap hidup yang kita lakoni? Seolah-olah dengan bergosip dan mentertawai nasib buruk teman kita, hidup kita sendiri menjadi terasa lebih ringan dan menjadi lebih baik?? Sakit memang kedengarannya, tapi itulah yang kurasakan kita aku dulu sering berteman dengan gaya bebek.

Orang-orang dalam lingkar pertemanan bebek itu, uniknya juga merupakan korban-korban gosip dari teman-teman bebek yang lainnya. Si A misalnya ketika bertemu dengan B, akan membicarakan keburukan si C. Si C ketika bertemu dengan A akan membicarakan keburukan si B, dan ketika mereka bertemu bertiga , mereka akan bergosip ria tentang si D atau si E atau siapa saja yang tengah menjadi perhatian mereka, dan seterusnya dan seterusnya. Sepertinya hidup orang lain sungguh menarik untuk dibicarakan, atau bahkan dibumbui sehingga lebih sedap ketika disampaikan ke orang lain.

Aku sendiri tentu tidak kaget ketika seorang kenalan baru tiba-tiba menyampaikan keprihatinannya atas cerita-cerita yang dia dengar tentang kehidupan masa laluku. Aku tidak perlu repot-repot bertanya siapa narasumbernya, karena sudah pasti cerita yang dia dengar itu datangnya dari kawanan teman-teman bebekku itu, dan itupun dia amini. Aku sendiri geli ketika setelah sekian lama tidak bertemu dengan teman-teman bebekku itu, tiba-tiba ada orang asing yang mangajak berkenalan karena saking penasarannya membandingkan antara aku dalam cerita-cerita versi teman-teman bebekku dengan aku sendiri yang kebetulan dia lihat melalui facebook atau ketika tidak sengaja bertemu di suatu acara ketika aku dan keluarga masih berada di Indonesia.

Aku bilang ke dia, aku tidak apa-apa. Cerita yang mereka sampaikan ke dia mungkin benar adanya, walau mungkin agak-agak didramatisir biar lebih seru hehehe. Cuma yang menjadi keherananku, orang itu tidak kenal aku sebelumnya, kok ya repot-repot banget teman-teman bebekku itu harus cerita tentang masa lalu ku ke dia. Apa mereka kurang kerjaan ya di kantornya? :D

Sekarang aku ingin bersikap lebih hati-hati. Bukan aku tidak ingin memiliki teman yang banyak. Tapi buatku kualitas pertemanan saat ini lebih penting daripada banyak teman tapi tidak merasa nyaman. Tentu aku juga manusia biasa, yang bisa merasa sakit ketika mendengar cerita kehidupannya diumbar-umbar tanpa rasa jengah sedikitpun. Seolah-olah ketika membicarakan orang lain, hidup kita sendiri lebih baik atau lebih mulia. Dan juga menilai orang dengan standar yang kita buat sendiri. Kita lupa bahwa masih ada Tuhan yang mencatat semuanya. Mencatat kemunafikan yang kita lakukan terhadap orang-orang yang kita panggil sebagai teman.

Sunday, July 18, 2010

Hari yang panjang di kampung halaman HC Andersen

Puisi karya HC Andersen yang aku baca ketika mengunjungi Museum HC Andersen di Odense

R
asanya excited banget ketika aku berkesempatan melakukan perjalanan sendiri untuk pertamakalinya di Denmark dengan kereta Slagelse-Odense. Suami memberiku libur dari aktivitas rumah tangga, ``You need to having fun with your friends, just go dont worry about Bintang``, ujar Lars ketika aku sampaikan niatku mengunjungi Kadek teman Indonesiaku yang bertempat tinggal di Odense.

Odense merupakan kota tempat kelahiran penulis dongeng terkenal Hans Christian Andersen. Aku mengenal dongeng-dongengnya sejak kecil. Beberapa karya beliau sangat melekat di pikiran hingga kini. Jadi ketika aku keluar dari stasiun kereta Odense, pertamakali yang HARUS aku kunjungi adalah Museum HC Andersen. Jadi Kadek dengan senang hati mengantarku ke sana.
Setelah dari museum kami berjalan kaki menuju apartemen Kadek. Setelah beristirahat sejenak, aku membantu Kadek memotong-motong sayuran bahan pecel dengan bumbu pecel kiriman bapakku. Kadek sendiri sudah memasak ayam betutu dan baso sapi. Setelahnya Kadek juga membuat pangsit isi ayam dan udang. Semuanya makanan khas Indonesia yang SUPER LEZAT!!

Menjelang sore, datanglah beberapa teman: Wulan asli Bandung yang sudah 10 tahun tinggal di Denmark, Farah asli Singapura yang sudah tinggal di Denmark 2 tahun, Daniela cewek Bosnia yang tinggal di Denmark setahun lebih. Sambil makan kami saling bertukar cerita dan berdiskusi tentang beberapa hal yang berkaitan dengan kehidupan sebagai pendatang di Denmark. Oya ada satu lagi teman yang datang menyusul yaitu Emma dari Kenya.

Setelah puas makan, kami keluar bersama-sama untuk menikmati kehidupan malam di Odense. Terus terang ini kali pertamanya aku keluar malam di Denmark. Kami menuju salah satu bar & cafe di pusat kota, dan menikmati suasana di sana. Tanpa sungkan kami menghangatkan malam dengan dance bersama-sama diiringi musik yang menghentak. It was very fun indeed!!

Tanpa terasa kami bersama-sama hingga pukul 03.30 pagi!!
Sungguh hari panjang yang menyenangkan di kampung halaman HC Andersen.