Translate

Wednesday, June 30, 2010

Jarang Update

Kembali bersekolah membuat waktuku untuk menulis agak tersita. Untungnya, perusahaan dimana aku terdaftar sebagai ghost writer, memahami kondisiku dan mengurangi beban order penulisan artikel setiap minggunya. Atau deadline diperpanjang, sehingga aku cukup banyak waktu untuk menyelesaikan setiap order penulisan.

Selain itu, tentu saja aku juga agak keteteran untuk menulis lagi di blog ini. Padahal banyaakkkkk sekali yang bisa aku tulis. Namun apa daya sampai di rumah, pekerjaan rumah sudah menanti dan setelahnya mata tidak bisa diajak kompromi , jam 9 malam pasti sudah ngantuk sekali.
Padahal sebelum bersekolah, waktu menulisku yang efektif ya antara jam 9 – 12 malam, dimana Bintang sudah tidur dan aku bisa duduk tenang di depan laptop.

Untungnya hari ini libur musim panas telah di mulai. Sekolah bahasaku libur dan masuk kembali tanggal 4 Agustus nanti. Karena aku libur, otomatis Bintang aku liburkan pula dari børnehave. Jadi aktivitas pagiku tak lagi begitu sesibuk ketika harus berangkat sekolah. Setelah selesai sarapan pagi, tadi aku beberes tumpukan pakaian kotor yang harus dicuci, dan juga menscan ijasah-ijasah sekolahku untuk aku kirim ke jasa penerjemah tersumpah di Jakarta. Hasil terjemahan akan aku kirim ke badan pengkajian pendidikan di Denmark. Mereka akan mengkaji ijasah-ijasah yang aku miliki guna disesuaikan dengan standar sistem pendidikan di Denmark. Hasil pengkajian yang akan aku terima nanti dapat aku gunakan untuk meneruskan studi atau melamar pekerjaan di Denmark.

Tidak terasa sudah 4 bulan aku di Denmark. Alhamdulilah proses kependudukan ku di sini lancar-lancar saja. Sekolah bahasa juga aku jalani dengan senang hati. Karena harus bersekolah setiap hari Senin hingga Jumat, lumayan bahasa Danishku mulai pelan-pelan terasah. Aku mulai bisa menjawab atau bercakap-cakap dengan dengan orang asing yang bertanya sesuatu, misalnya seorang bapak tua yang menanyakan rute bis ketika aku dan Bintang tengah menunggu bis yang akan membawa kami pulang ke rumah. Atau ketika harus berhubungan dengan layanan masyarakat seperti: kantor kommune dan dokter. Walau masih kaku aku mencoba semaksimal mungkin menggunakan Bahasa Danish yang sudah aku dapatkan dari sekolah. Doakan ya mudah-mudahan tahun depan aku sudah fasih :)

Aku juga mulai mendapatkan beberapa teman baru. Eh, ternyata di kota di mana aku tinggal ada dua orang perempuan Indonesia yang sudah lebih dahulu menetap di sana. Salah satunya Nining, asli Solo, dia sudah 3 tahun tinggal di Denmark. Sudah beberapa kali ini aku bertemu dan jalan bareng dengannya. Rasanya senang sekali bisa bertemu teman sebangsa terutama ketika mereka tinggal di kota yang sama. Dari mereka aku mendapatkan banyak sekali info-info penting berkaitan dengan pendidikan dan pekerjaan di Denmark.

Monday, June 7, 2010

Belajar Mandiri

Bicara tentang kemandirian sebenarnya bukan hal yang baru buatku. Sepanjang perjalanan usiaku yang tidak lagi muda (tahun ini akan menginjak 36 tahun), terdapat beberapa fase-fase di mana aku dipaksa menjadi lebih mandiri dan tidak terlalu tergantung pada orang-orang di sekitarku.

Latar belakang ku sebagai anak dari keluarga broken home juga menjadi salah satu pemicu kondisi yang saat itu mau tak mau memaksaku keluar dari kepompong hangat bernama ketergantungan dan kemanjaan.

Namun aku tidak memungkiri ada saat-saat dimana kehidupanku dipenuhi fasilitas yang luar biasa; 5 tahun menikah dengan seorang ekspatriat dan tinggal di negeri gemah rimpah loh jinawi : Indonesia. Di mana kami hidup bagaikan kaum bangsawan, di dalam rumah mewah dan mendapatkan pelayanan pembantu, supir, satpam, dan baby sitter. Terus terang aku menikmatinya, namun mencoba untuk tidak larut di dalamnya. Alam bawah sadarku bilang: ini hanya sementara saja dan hidup itu berputar bagaikan roda. Apa yang kau miliki saat ini belum tentu akan terus kau miliki ...

Roda itu sekarang membawaku ke negeri ini, negeri dimana suamiku berasal. Di mana kemandirian sangat dihargai dan menjadi modal utama untuk bertahan hidup. Terus terang aku juga sangat menikmatinya, menjalaninya dengan percaya bahwa aku sanggup dan mampu.

Aku percaya di setiap perjalanan hidup yang aku singgahi akan menempaku menjadi lebih kuat dan tegar namun semoga tidak menjadikanku tinggi hati dan lupa diri. Aku ingin mengambil setiap nilai-nilai positif di dalam perjalanan kehidupanku, menghidupkannya terus dalam hidupku, dan bersyukur karenanya. Meskipun begitu, hal-hal negatif yang pernah terjadi tidak akan pernah aku lupakan, aku bersyukur pernah mengalaminya, karena tanpa itu semua aku bukanlah aku yang sekarang.

Hari-hariku sekarang kugunakan untuk melatih diri menjadi pribadi yang lebih sabar dan tekun. Kembali bersekolah lagi, mencoba sebaik mungkin menjalaninya dan berharap akan memetik hasilnya di masa depan. Memang bukan hal yang mudah, namun aku yakin aku pasti bisa :)